Don Juan

donjuan

Image by Google

Rasaku karam, hilang bersama malam.

suara dendangku sedan, lindap diam-diam

Tak kutemukan gemawan jingga diujung cakrawala,

tak kutatap pendar cahaya yang serupa matamu pada lintasan bianglala.

 

Musim berganti janjimu mengabadi

Katamu takkan pudar serupa setia mentari pada pagi.

Janji tak ingkar seperti janji hujan pada para petani,

Duhai Don Juan, waktu terlalu jauh berlari, dan rinduku tlah lama basi…

 

Tetiba kau datang,

membawa puja-puji dan rindu terkembang.

Jangan lupa aku bukan lagi gadis belia berkepang dua,

takkan lagi kuterbuai rasa, cinta palsu bak fatamorgana.

Usah membujuk takkan ku mau,

tak ada tempat bagi pencinta semu.

 

Advertisements

Ketika Cinta Tak Bicara

memohon

Langit biru terang, bahkan awan seolah bergulungan menggoda… menampakkan kelembutannya serupa kapas yang melayang di angkasa. Pipi yang merona semburat merah muda berpadu warna bibir alami yang membingkai wajahnya. Langit semakin terang ketika langkahnya yang ringan, dan senyumnya mengembang menghampiriku di kedai langganan.

Memandang wajahnya selalu ada badai dihati lelakiku, bergelombang nyanyian samudra yang berbisik segala kata, semua suara dari rasa yang kutekan diam-diam.

” Tinggallah bersamaku, maukah menghabiskan waktu dengan lelaki yang telah lama mencintaimu ini, atau tinggalkan dia…” tidak ada yang terucapkan, kata-kata itu hanya melayang diseantero pikiran dan perasaanku.

Continue reading

Pesan

sad_girl__by_error_

Image by Google

” Maaf, waktu boleh berlalu Ra…tidak dengan rasaku, aku masih berdegup keras hanya dengan mengingatmu ”

Aku baca ulang sebaris kalimat pada layar handphone ku, terkirim sejak semalam dan kubiarkan usang tak mendapat balasan. Aku tak ingin menduga seseorang disana menunggu untuk sekedar sebuah balasan singkat.

Barisan kalimat dan curahan hatinya memenuhi seluruh timeline, bisikan rasanya tumpah ruah dalam aksara. Riangku hilang terbang. Ada yang mematikan, menumpulkan indera perasaku hingga beku tak lagi peka pada diksi atau puisi.

Aku tersentak, handphone ku nyaris jatuh bersamaan dering pesan menyergap.

” Padahal aku janji untuk tidak mengusikmu lagi, tapi kamu udara yang hampir separuh aku ada dalam hatiku. Maaf Ra,.. “

Ingatanku sumbang, bergantian dengan  segala yang menjadi irama hidupku. Diamku membuatmu terjebak asa, padahal sejatinya aku hanyalah bayangan pada kotak kaca yang memberimu batas tegas pada sekat yang terbaca.

Diam bagiku adalah ketika bibirku tak ingin lagi menyampaikan, diam bagiku adalah ketika tak ada yang harus kubisikkan. Kuraih handphone yang sejak tadi menungguku. Pelan ku biarkan jemariku sekejap menari, pada pesan-pesan yang tak pernah terbalas.

” Aku serupa bayang-bayang, tidak pernah ada…dan tidak akan pernah menjadi nyata. Maaf untukmu adalah ketika kau berhenti untuk menyebut namaku “

Handphone mengirimkan pesan, hatiku berkembang. Suara rintik hujan perlahan memecah kesunyian, rinainya merdu memukul-mukul jendela. Aku hening pada udara hari ini, lebur dan terpesona pada kesetiaan hujan pada akar-akar dan bumi. Rindu pada puisi yang tidak bernama bait dan spasi, yang tak perlu ku eja karena syair dan metaphora. Cukup ku larung keteduhan pada mata sederhana itu,… pada mata lelakiku.