Oktober dan Kanker

pitapink2

Bulan Oktober diperingati sebagai pink ribbon month, bulan peringatan bagi kanker payudara. Tidak,… saya bukan survivor kanker payudara. Tapi anggap saja saya survivor dari kerabatnya.

Kanker jelas akrab dalam kehidupan saya, sepuluh tahun saya jatuh dan bangun, berperang melawan kondisi tubuh yang naik turun karena vonis kanker usus besar yang saya terima beberapa tahun yang lalu.  Waktu berlalu dan saya bersyukur bisa menyatakan diri, saya survivor kanker colon….seseorang yang bisa bertahan dari kanker usus besar. Allah yang menganugerahkan kembali nikmat sehat dalam kehidupan saya.

Dan oktober adalah bulan begitu banyak cerita mengenai kanker dalam hidup saya. Di vonis pertama kali bertemu kanker adalah bulan ini, operasi pertama dan kedua di bulan oktober 2002. Lalu oktober 2007 ditemukan kembali sel itu diam-diam mulai tumbuh dan saya harus kembali merasakan dinginnya tangan para dokter saat jaringan itu diangkat dari tubuh saya…lagi.

Oktober 2012, ditemukan tumor jinak  yang disebut hemangioma pada liver saya.  Tidak terlalu beresiko jika kamu bukan seseorang yang pernah di vonis kanker usus besar.  Oktober 2013, pengangkatan polip pada endoserviks. Akhh… membuka buku harian tentang perjalanan medis saya membuat jantung saya berdesir. Ya Rabb… betapa murah hatinya Engkau, betapa tidak berdayanya hamba. Betapa besarnya KekuasaanMu…dan betapa lemahnya hamba.

Untuk sahabat-sahabatku yang sedang berjuang bersama kanker, khususnya kanker payudara.  Saya tahu ini tidak mudah, mata saya selalu berkaca membaca tulisan teman-teman yang sekuat hati berjuang melawan kanker payudara. Hati saya selalu sesak, ketika beberapa teman atau kerabat berkenalan dengan kanker ini.

Jika payudara adalah simbol wanita kita, maka sesungguhnya tiada pun tak mengapa asalkan hatimu bebas merdeka dalam lingkup kebahagiaan dan kesehatan. Tak apa mereka hilang, asalkan bukan harapan yang terbang. Tak apa mereka separuh, asalkan bukan keyakinan yang tak utuh.  Jangan takut dengan carut marut tubuhmu, karena yang mencintaimu tidak perduli itu. Abaikan mahkotamu yang luruh, tapi jangan biarkan larut dalam keluh. Tuhan mencintaimu…  🙂

Aku pasien kanker

Aku pasien kanker,

seorang ibu, istri, anak, dan teman.

aku memiliki cita-cita dan masa lalu yang penuh kenangan

Kadang aku bimbang siapa yang akan menjaga anak-anakku setelah aku tiada,

tapi terkadang aku yakin akan hidup lebih lama.

 

Aku pasien kanker,

seorang penyintas, sebuah inspirasi dan pendukung.

Aku telah menjalani penanganan dan perawatan medis

dan merasa telanjang di depan orang yang tak kukenal yang mengenggam masa depanku.

Ada saat aku merasa bingung dan saat aku mengerti sepenuhnya,

malam-malam saat tidurku resah dan hari-hari penuh kesangsian dan amarah.

 

Aku pasien kanker,

yang terlatih menyamarkan tanda penyakit dengan riasan dan senyuman,

tetapi jangan terkecoh, sebenarnya aku takut.

 

Aku pasien kanker,

ditatap dengan pandangan pilu, kagum, dan salah paham oleh mereka yang tidak mengetahui perjuanganku.

Aku menikmati saat-saat penuh kedamaian ditengah ketidakpastian

karena aku menyadari betapa berharganya hidup ini.

 

Aku pasien kanker,

yang hadir menghadapi tantangan.

Aku bersyukur menerima efek samping yang membantuku menjadi seorang ibu, istri, anak, teman, dan sahabat yang lebih baik dari sebelumnya.

Dan aku bahagia menjalani kehidupan yang indah….

 

# By.  Seorang penyintas

Advertisements

Kolonoskopi Tak Seenak Ngopi

Judulnya sore nanti evaluasi Ca Colon, mari kita lihat apa yang ada di dalam sana. Yang akhir-akhir ini sering membuatku merasa nyeri dibagian abdomen. Harapanku tentu saja sel-sel itu tidak kembali lagi. Yup,..sore nanti kolonoskopi lagi. Terakhir tindakan ini dua tahun lalu, sebagai survivor kanker usus besar yang baik dan ingin tetap bertahan dalam kondisi baik. Maka follow up terus meski proses ini sungguhhhh tidak enak !

Okee, ini kolonoskopiku yang ke 10 kali. Suster ruangan endoskopiku malah bilang kalau aku pasien senior, bahkan sambil berkelakar dia bilang ” Mba irma sih gak usah dikasih narkoba deh untuk penenang saat kolonoskopi nanti, udah 10 kaliii…udah biasa ”  -_____-

Heuuuu,… Suster plisss dehhh…

Anggaplah aku sudah paham teknis dan prosesnya nanti, anggaplah lemasnya puasa dan puahiitttnnya garam inggris bisa kuatasi. Anggaplah bolak-baliknya ketoilet dua hari ini yang udah gak keitung berapa kali bisa ku jalani ( anggap aja lg diet ekstrim ) . Sungguh tak seberapa jika dibanding vonis kanker dulu, dibanding dinginnya meja operasi yang tiga kali kujalani.

Aku menerima semua proses yang kujalani, selalu kuingatkan diriku bahwa aku sangat bersyukur…sangat. Banyak saudara-saudara ku yang masih terus berjuang mengalahkan kanker, aku bersyukur untuk semua kemudahan berobat yang aku terima. Untuk dokter yang ikut mensuport agar aku tetap dalam kondisi ‘aman’ .

Tindakan ini memang bukan hanya persiapannya saja yang ‘tidak enak’ dan prosesnya yang ‘sakit’ tapi aku masih harus berdebar dengan hasil yang bisa kulihat langsung nanti. Manusia yang ikhlas adalah yang menerima apapun takdir Tuhan dengan penuh syukur,…maka mari belajar untuk menjadi manusia yang tahu bersyukur. Apapun hasilnya nanti,… aku ikhlas ya Allah.

Wish me luck ya mantemans ^_^